Menu

Angkringan ‘Strategi bisnis”

12/04/2017 - Article Tentang Usaha & Rejeki
Angkringan ‘Strategi bisnis”

Angkringan

Setiap ingin bersantai sejenak untuk melepaskan kepenatan kerja di Jakarta dan memiliki waktu libur cukup panjang seperti akhir pekan, saya memilih untuk mengunjungi Jogja. Tempat dimana kemajemukan bertemu. Dan, malam hari adalah waktu paling tepat bagi saya untuk mengarungi kota yang begitu indah dengan kerlipan lampu dan keramaian khas Jogja. Selain meyakini kota Jogja sebagai kota budaya dan pendidikan, saya menyebut kota ini sebagai kota makanan. Bermacam jenis makanan, dari yang tradisional hingga makanan wong londo (orang barat) pun tersedia. Jika saya di Jogja malam hari, makan di angkringan tidak pernah saya lewatkan. Secara sederhana, angkringan bisa digambarkan sebagai sebuah tempat makan dimana gerobak makan disulap sekalian sebagai meja makan dan dilengkapi dengan bangku panjang. Hidangannya beragam, dari sayur, gorengan, sate dan minuman hangat seperti teh, jahe, jeruk, susu dan lainnya.

Warung angkringan ini selalu penuh oleh berbagai kalangan, dari pelajar hingga eksekutif kantoran. Biasanya konsumen selalu berinteraksi satu dengan yang lain. Ada saja yang dibicarakan, dari keadaan sekitar hingga politik negara. Selain itu, konsumen dengan mudah memilih makanan dan minuman yang disediakan, dan tidaklah diharamkan untuk melakukan eksperimen dengan “membuat” sesuatu yang baru. Saya sendiri pernah meminta kepada penjual untuk membuat minuman susu jahe dingin, dari namanya bisa dibayangkan minuman itu terdiri dari susu cair biasa ditambah jahe yang cukup pedas dan ditambah dengan es batu. Setelah dicoba minuman ini pun menjadi favorit saya jika datang ke angkringan. Sate telur puyuh yang sudah digoreng dengan kuah semur manis pun sering diminta oleh konsumen untuk dibakar atau dipanggang dulu di bara api tempat memasak air sebelum dihidangkan. Banyak bentuk yang tidak biasa jika kita amati perilaku konsumen atas makanan mereka.

Suasana akrab antar konsumen dengan penjual sebagai “moderator” perbincangan berubah menjadi sebuah forum diskusi dan tukar-fikiran yang cukup hangat, walaupun konsumen yang ada belumlah saling kenal sebelumnya. Selagi berinteraksi, tetap saja makanan menjadi sasaran para konsumen sesaat giliran berbicara mereka sedang digunakan oleh konsumen lainnya. Tidak jarang para konsumen meninggalkan warung angkringan tersebut setelah menghabiskan waktu hingga 1 hingga 2 jam lamanya, dengan resiko membayar harga makanan cukup banyak.

Konsep community dan customization yang ditempuh oleh banyak para penjual warung angkringan ini terbukti efektif menarik banyak konsumen untuk kembali datang ke warung mereka di masa mendatang. Loyalitas konsumen terbentuk dengan sendirinya karena didukung oleh budaya customization di sana, setiap konsumen diperbolehkan memilih dan mencoba untuk melakukan suatu hal baru dari bahan makanan dan minuman yang tersedia, dan juga memiliki kesempatan yang sama dengan yang lain untuk mengungkapkan sebuah topik pembicaraan dan mengutarakan pendapatnya masing-masing. Komunitas pun terbentuk dan tentunya tetap menjadi pelanggan setia bagi warung angkringan tersebut, selama komunitas tersebut memiliki kesempatan untuk “melakukan” apa yang diinginkan dan merasa nyaman atas keadaan di sana, maka aliran keuntungan pun tetap mengalir.

Adaptasi konsep angkringan ini oleh para pemain bisnis yang lebih modern bisa kita lihat kepada usaha pabrikan mobil Mercedes Benz, yang menyediakan jasa customization atas keinginan mobil dari para konsumen mereka, dan pabrikan mobil Jerman ini pun tidak segan-segan memberikan dukungan penuh kepada kelompok komunitas pengguna produk mereka berupa memberikan akses penuh untuk mengungkapkan keinginan mereka dan mimpi mereka atas produk Mercedez Benz ke depannya. Penyedia layanan search engine dengan market share terbesar di dunia yaitu GOOGLE pun melakukan hal yang sama untuk produk premium mereka yaitu ANDROID. OS Open Source adalah produk ANDROID yang ditujukan kepada pengguna dari kalangan eksekutif dan profesional, GOOGLE memberikan akses kepada komunitas pengguna produk ANDROID ini untuk mencoba produk ataupun software baru khusus bagi anggota komunitas ini, mereka bebas memberikan masukan dan testimonial atas produk tersebut. Customization pun menjadi senjata andalan ANDROID untuk memberikan kepuasan dan meningkatkan loyalitas konsumen mereka.

Dalam dunia asuransi pun ini bukan hal baru. Kita mengenal dengan taylor product dimana tertanggung memiliki kesempatan untuk mengajukan benefit dan/atau jaminan atas resiko yang ingin dialihkan kepada penanggung. Secara mendasar, rasio kecukupan bilangan besar memang harus dipenuhi untuk memenuhi konsep customization tersebut, sebagai alternatif banyak perusahaan asuransi yang memberikan konsep limited customization dimana calon tertanggung diberikan hak untuk memilih beberapa resiko perluasan yang ingin dipertanggungkan selain resiko dasar. Dengan memperhatikan kondisi industri perasuransian di Indonesia yang sedang berkembang ini, diharapakan konsep customization ini menjadi sebagai salah satu senjata penting untuk lebih menggalakkan perindustrian asuransi. Dengan didukung oleh akses cukup luas bagi komunitas pengguna jasa asuransi ini akan mempertinggi loyalitas konsumen yang telah ada dan diharapkan akan menjadi “agen rahasia” kepada calon tertanggung lainnya. Tugas para praktisi perasuransian tinggal mencari langkah aplikatif untuk menerapkan konsep community dan customization ini kepada pasarnya.

Makna yg didapat dari sini adalah, tak ada hasil terbaik bisa di capai tanpa kita memiliki nilai lebih seperti pelayanan lebih yg mungkin kelihatannya simple dan sepele, pada intinya adalah “The Power Of Giving” semakin banyak yg kita layani maka semakin banyak yg akan kita dapatkan. Yuuk kita rubah pola nalar kita untuk menghilangkan keegoisan kita, terkotak-kotakan yg masih bergelut pada benar atau salah atau yg mengkerucutkan doktrinasi yg itu-itu saja. Toh sehebat apapun perkumpulan, ormas, golongan, partai, sekte agama, dkk. Tidak akan pernah akan memikirkan nasibmu sendiri (tak berdampak bagi kemajuan kesejahteraanmu), kalau bukan kita sendiri yang membangunnya.

Salam Rahayu