Menu

Dermawan

12/04/2017 - Article Tentang Usaha & Rejeki
Dermawan

Dermawan alias Suka Memberi… maka Engkau kan dikayakan sobat… dan dimulyakan…

Memberi…

“Siapkan kopi… Santai sejenak luangkan waktu… Krn “maaf” jika kepanjangen”

Ya dengan memberi maka… Kita Akan bangkrut… Bhahaha
*klo tidak tau caranya*

Eh… dgn memberi maka kita akan dimuliakan *ini yg bener* hehehe…

Ini adalah pemahaman klasik yg sudah sering kita dengar dr nenek buyut, nenek moyang, tante, kakek dkk, dan kita percaya bahwa dengan memberi maka kita akan dapatkan yg kita inginkan, tetapi kebanyakan dr kita pd kenyataannya hanya sampai ke tahapan percaya belum sampai ke yg lebih lagi menjadi perbuatan yaitu “yakin”.

Kali ini saya kan menuliskan pada poinnya langsung yaitu caranya, cara memberi yg TepatGuna agar pemberian yang telah kita lakukan, entah itu berbentuk zakat, infak, sedekah maupun hadiah yang kita berikan ke orang lain, benar-benar bisa ampuh membuka kran rejeki kita.

Kran rejeki kita akan terbuka karena pemberian yang TepatGuna yang kita berikan, kembali ke kita berlipat ganda menjadi sumber rejeki baru.

Harusnya Kita sudah semakin yakin bahwa kalau Kita ingin segera sukses, kaya dan bahagia dalam hidup ini, maka Kita harus segera mulai memberi, saatnya.

Mulai dengan memberikan apa yang sudah Kita punya lebih dahulu dan yang Kita merasa nyaman melepaskannya dari hidup Kita.

Semua perjalanan dimulai dengan satu langkah kecil.

Semua anak belajar bicara dengan satu kata sederhana lebih dahulu. Jadi kalau memberi ini adalah suatu hal baru dalam hidup Kita, Kita harus memulainya dengan yang Kita bisa. Dengan yang Kita merasa nyaman, dan bukan karena merasa terpaksa atau karena merasa ini adalah sebuah persyaratan.

Keikhlasan dan rasa syukur akan penjagaan dan karunia Tuhanlah yang harusnya menjadi motivasi memberi agar bisa TepatGuna.

Jadi Kita perlu berlatih dengan jumlah yang Kita mampu dulu.

Bila Kita sudah terbiasa memberi, dan ingin merasakan kesuksesan yang lebih besar lagi, Kita bisa sedikit demi sedikit mulai menambah jumlah pemberian Kita, karena memberi ini pada gilirannya memang akan meningkatkan kondisi perekonomian Kita. Percayalah.

Oh ya, kalau Kita perhatikan dengan cermat isi Al-Quran, Kita akan menemukan bahwa perintah untuk memberi ini sangat-sangat banyak. Dengan beragam redaksi kalimat perintah seperti, “Maka nafkahkanlah hartamu…”, atau tentang “Orang-orang yang menafkahkan hartanya…” dan sejenisnya.
Bahkan, tampak lebih banyak jumlahnya dari perintah menjalankah jenis ibadah lainnya.

Jadi, jelas kan memberi ini bukan hal main-main. Ini salah satu jenis “ibadah” yang dengan sangat kuat diperintahkan Tuhan berulang kali dengan penekanan pula.

Jadi kalau masih ada orang yang rajin melakukan ritual ibadah jenis lainnya, apapun, tetapi dia masih juga pelit memberi, maka berarti dia telah salah menafsirkan perintah Tuhan. Wallahu’alam.

Yang jelas, kita sudah tahu bahwa langkah pertama yang bisa kita tempuh untuk mendapatkan kesuksesan sejati adalah dengan lebih dahulu memberi. Bahwa memberi membuka kran rejeki.

Berikutnya, saya jelaskan detil syarat memberi TepatGuna yang manjur untuk membuka kran rejeki dengan menjadi wujud imbalan berkali-kali lipat.

1. BERI DENGAN PERASAAN POSITIF
Syarat memberi TepatGuna pertama agar pintu sukses kita terbuka lebar adalah kita harus memberi dengan perasaan positif, dengan hati senang dan benar-benar tulus.

Untuk bisa melakukan memberi TepatGuna dengan perasaan positif ini Kita perlu berlatih mempercayai insting dan kata hati. Ingat, bahkan yang menggerakkan hatipun adalah Tuhan jua adanya.

Saya dahulu biasa memilih-milih dengan logika, siapa yang perlu saya beri. Tetapi kebanyakan menimbang seperti itu malah menghalangi aliran rejeki dan perasaan postitive kita, karena kita jadi kemudian terjebak banyak prasangka, atau bahkan keraguan. Akibatnya, TepatGunaitas memberi kita terhambat.

Pemberian yang diiringi perasaan negatif seperti cemas, ragu-ragu atau khawatir, seperti ini, tidak akan TepatGuna terbukanya kran rejeki.

Lebih baik gunakan petunjuk spontanitas. Misalnya, Kita sudah meniatkan hendak memberi sejumlah uang, tanpa ragu atau pikir panjang, langsung berikan uang tersebut kepada orang pertama yang Kita rasakan panggilan untuk memberi. Karena memberi yang kita bicarakan di sini luas sekali.

Tidak harus kita memberi kepada mereka yang lebih membutuhkan atau lebih miskin dari kita saja. Tidak, kita bisa memberi kepada siapa saja yang menyentuh hati kita tadi.

Bisa jadi Kita akan memberi uang ke orang yang tidak Kita kenal walaupun dia bukan pengemis. Atau memberi uang kepada teman sendiri yang selama ini mendukung Kita, walaupun dia tidak membutuhkan bantuan sepeserpun atau yang bahkan secara ekonomi lebih mapan dari kita.

Esensi dari memberi adalah menunjukkan kepada TUHAN bahwa kita yakin akan janji-NYA. Kita yakin akan kekayaan, kebesaran dan kemaha-kuasaan TUHAN.

Kita tunjukkan bahwa kita sepenuhnya beriman akan fakta bahwa TUHAN pasti menjaga kita dalam kondisi apapun.

Sehingga kita tidak takut berpisah dengan uang atau harta kita, karena punya penjaga yang memiliki segalanya.

Itu intinya. Dan kalau kita yakin kepada-NYA, maka kita tidak akan merasa bersedih hati, takut, khawatir atau ragu sama sekali, kan? Kita akan merasa positif tentang memberi ini.

Dan perasaan poritif adalah hal pertama dalam syarat memberi TepatGuna kita.

Cerita :

Mungkin ini adalah cerita klasik bagi sebagian orang tapi tak ada salahnya saya mencoba mengangkat kembali cerita ini, mungkin sekedar mengingatkan dan berbagi semoga menjadi manfaat wahai “SAHABAT”

Ada sebuah pesan tersirat dari Danau Galilea dan Laut Mati yg hendak disampaikan oleh-Nya kepada kita.

Dimana Danau Galilea dan Laut Mati mendapat air dari sumber yang sama yaitu sungai Yordan.

Tetapi bisa kita lihat Danau Galilea sangat indah membentuk panorama nan elok “bak oasis di padang pasir” yang sekelilingnya ditumbuhi berbagai jenis tanaman dan terdapat beragam ekosistem air yg hidup di dalamnya bahkan tak jarang orang yang bermukim disana.

Namun Sebaliknya, Laut Mati adalah tempat yang tak bisa ditinggali. Tidak ada ekosistem yang mampu hidup disana. Tak ada tumbuhan maupun hewan yang dapat hidup baik di dalam maupun di sekeliling Laut Mati karena kadar garamnya yang begitu tinggi, dan bau disekitar Laut Mati sangatlah tidak sedap.

Mengapa keduanya bisa begitu berbeda, padahal sumber airnya sama?

Danau Galilea “MENGALIRKAN”. Danau Galilea mengalirkan airnya ke danau lain termasuk ke LAUT MATI dan juga memanfaatkannya (tidak tuk dirinya sendiri).

Laut Mati “menerima dan menyimpan” untuk dirinya sendiri. Air yang mengalir ke Laut Mati tak pernah dialirkan ke tempat lain lagi, hanya mengandalkan dari penguapan air. Hingga Kadar Garamnya Sangat Pekat.

Allah menciptakan perbedaan ini untuk mengajarkan kita bagaimana indahnya berbagi.
Sebagai manusia, janganlah kita hanya bisa menerima saja, kita harus bisa mengalirkan kembali.

Rezeki yg telah kita terima baik dalam bentuk materi, ilmu, kekuasaan dll, jangan hanya dinikmati sendiri, BERBAGILAH-ALIRKANLAH !!.

Dengan begitu, semua akan menjadi indah dan berkah serta memberi manfaat pada sesama dan semesta alam dalam kesadaran kan berbuah KEDAMAIAN di dalam diri. “KHALIFAH”

2. JANGAN MENGHARAP BALASAN
Karena kita memberi dengan rasa positif sebagai rasa syukur kepada Tuhan, maka syarat memberi TepatGuna kedua adalah Kita harus segera melupakan pemberian itu. Begitu uang meninggalkan tangan kita, sudah, lupakan.

Jangan pikirkan apapun, selain rasa syukur bahwa kita ternyata mampu memberi, bahwa kita tidak akan pernah kekurangan atau disengsarakan oleh Tuhan. Jangan pikirkan uang itu nantinya oleh yang menerima akan digunakan untuk apa, atau yang lainnya.

Jangan pikirkan apapun, selain, apa tadi?…ya betul, selain rasa syukur akan BESERTANYA TUHAN atas hidup kita.

Ingat hukum matematika dalam rumus pembagian, ibarat sedekah itu rumusnya : 1/(imbalan) = hasil, jadi klo kita tidak berharap imbalan (ikhlas) maka hasilnya 1/0= tak terhingga, tapi semakin kita mengarap imbalan maka semakin hampir tidak dapat sama sekali misal ngasih 1 berharap imbalan 20 maka hasilnya 1/20.

Selain itu tentu saja Kita juga tidak boleh berpikir kapan mendapat balasannya, atau dengan cara apa, atau berapa nanti balasannya.

Jangan berpikir apa-apa. Apalagi berpikir dan mengharapkan balasannya dari orang yang telah Kita beri tadi.

Semua pikiran seperti ini membatasi dan bahkan bisa menunda efek berlipat ganda pemberian kita.

Ibaratnya sesudah meminum segelas susu segar, kita yakin susu itu akan membawa kesehatan, walaupun tidak saat itu juga kemudian penyakit kita langsung sembuh, misalnya, atau tulang kita langung kuat dsb. Kita hanya yakin bahwa susu akan membawa efek yang baik untuk kesehatan kita dalam jangka panjang meski efeknya ini tidak langsung terasa.

Sama seperti itu. Susu diminum, habis, ucapkan Alhamdulillah. Lalu lupakan. Kita tahu susu tersebut ada manfaatnya. Tapi Kita tidak perlu kemudian memeriksa badan Kita untuk melihat apakah Kita sudah bertambah tinggi atau berotot detik itu juga kan?

Berikan dan lupakan. Biar Tuhan yang mengurus ganjarannya. Yang penting Kita yakin ganjaran tersebut pasti ada. Itu sudah cukup. Melupakan pemberian Kita merupakan hal kedua dalam syarat memberi TepatGuna.

3. SIAP MENERIMA
Saya pernah membaca sebuah hadits dari Shahih Muslim, yang intinya, konon, hari kiamat itu sudah dekat kalau sudah banyak orang kaya yang setengah mati keliling kampung untuk bisa memberikan sebagian hartanya, tetapi tidak bisa menemukan seorangpun yang bersedia menerima pemberiannya tersebut, karena semua orang sudah (merasa) kaya dan tidak membutuhkan pemberian orang lain. Semua orang menolak diberi.
Konon, itu tanda dekatnya hari kiamat. (Mudah-mudahan bukan di tahun 2017, ya,….he..he..he.)

Lepas dari kisah ini, karena kalau kiamat memang sudah harusnya datang, toh tidak ada yang akan bisa merubah ketetapan Allah ini, kita memang harus merenung bahwa kalau memberi adalah syarat untuk menjadi sukses, bagaimana kalau sudah tidak ada lagi orang yang mau menerima pemberian kita? Bukankah itu berarti bahwa pintu kesuksesan untuk semua orang juga akan tertutup?

Karena itulah, agar memberi tetap ampuh dan bisa membukakan pintu rejeki bagi kita dan semua orang di sekitar kita, maka syarat memberi TepatGuna ketiga adalah Kita sendiri pun harus selalu bersedia menjadi pihak penerima sebuah pemberian.

EQUILIBRIUM atau keseimbangan alam (atau HUKUM TIMBAL BALIK atau SEBAB AKIBAT) menggariskan bahwa memberi memerlukan pihak lainnya untuk menerima. Tanpa adanya pihak penerima tidak mungkin ada pihak yang bisa menjadi pemberi. Tidak akan ada tangan di atas bila tidak ada tangan yang menadah di bawahnya untuk menerima.

Jadi, tangan di bawah sama pentingnya dengan tangan di atas. Ini sebuah simbiosis mutualisme atau hubungan timbal balik yang saling memerlukan dan menguntungkan.

Sehingga, sekali lagi, mari kita bukakan pintu rejeki untuk orang lain dengan siap menjadi pihak penerima bila ada yang memberi.

Jangan terjebak rasa tidak enak, merasa tidak berhak dan sebagainya. Jangan tolak suatu pemberian walau yang memberi jauh lebih miskin harta dari kita. Terima dan syukuri.

Karena, selain bersedia menerima adalah sebuah syarat memberi TepatGuna, menolak pemberian juga bisa menyakiti pihak pemberi dan membawa seluruh umat manusia selangkah lebih dekat dengan hari kiamat…he..he..he

4. BERI YANG KITA INGINKAN
Syarat memberi TepatGuna terakhir agar pemberian Kita, ampuh membuka lebar-lebar kran rejeki dalam hidup Kita, dalam arti, Kita bisa memiliki semua yang Kita inginkan adalah kita harus mau memberi tidak hanya uang, tapi apa saja yang kita inginkan tersebut.

Kita tahu, alur segala sesuatu itu begini: Kita memberi lebih dulu baru Kita mendapat balasannya berlipat-lipat.

Jadi bukan Kita kaya dulu baru Kita bisa memberi dan membantu orang lain, seperti sikap dan cara pandang kebanyakan orang.

“Nanti kalau aku kaya aku akan sedekah….”, “Nanti kalau usahaku ini sudah berhasil, aku akan menyantuni panti asuhan….”, “Kalau aku naik pangkat dan naik gaji, aku akan bayar zakat hartaku…” dan sebagainya.

Tidak, ini terbalik total.

Kita memberi dahulu, yang dengan itu Kita menyatakan diri bahwa KITA SUDAH KAYA,

lalu (karenanya) Kita mendapat balasan berlipat, yang artinya menegaskan perasaan bahwa Kita sudah kaya tadi serta menambah jumlah kekayaan Kita.

Lalu karena balasan berlipat ini, Kita jadi bisa memberi semakin banyak lagi,
yang kemudian berakibat Kita mendapat lebih banyak lagi dan Kita semakin kaya luar biasa, dan begitu seterusnya.

Kita memberi dulu, maka Tuhan akan menciptakan cara untuk membalas pemberian Kita tadi sepuluh kali lipat, yang bisa jadi salah satunya adalah dengan menaikkan pangkat dan gaji Kita, membuat usaha Kita lancar, penjualan Kita meningkat dan sebagainya.

Memberi dengan begitu telah menjelma menjadi sebuah lingkaran Tuhan (kebalikan dari lingkaran setan, he..he..he..) yang tidak terputus menjaga kelangsungan kekayaan Kita.

Semakin banyak Kita memberi, semakin banyak Kita akan terima. Dan untuk terus menerima, Kita harus terus memberi, dan memberi, dan memberi.

Dan karena Kita ingin sukses tidak hanya dalam hal keuangan atau harta material saja, maka Kita bisa memberi apa saja yang Kita punya.

Apapun itu yang Kita berikan, dari sesuatu yang abstrak dan tidak memerlukan modal seperti senyum, kasih sayang, kelembutan, keramahan, perhatian, sapaan, kata-kata yang memotivasi, ilmu, informasi, waktu, pengabdian, sampai barang fisik, semua pasti dikembalikan pada Kita berlipat ganda.

Jadi apapun yang Kita inginkan di dunia ini, berikanlah dahulu ke orang lain, ini adalah satu syarat memberi TepatGuna.

Kita ingin terkenal, bantu orang lain menjadi terkenal lebih dulu.

Kita ingin disayang, maka sayangi orang lain terlebih dahulu.

Kita ingin orang di sekitar Kita ramah pada Kita, maka sapalah mereka lebih dahulu.

Kita ingin bumi ini memberi Kita kesejukan dan kenyamanan sebagai tempat tinggal, maka sayangi dan peliharalah bumi ini terlebih dahulu.

Kita tidak ingin ada perang di dunia, maka sebarkan pesan damai dan persahabatan.

Ingin putra-putri Kita bertabiat baik? Maka berlaku baik pulalah lebih dahulu ke mereka.

Ingin tubuh kita tetap sehat sehingga maksimal dalam memberi wadah untuk ekspresi jiwa kita? Maka perlakukanlah badan kita dengan baik terlebih dahulu. Makan yang sehat, istirahat, olah raga dsb.

Kita ingin bahagia, maka bahagiakanlah orang lain lebih dulu.

Ingin bertambah ilmu, ajarkan ilmu Kita ke orang lain lebih dahulu.

Ingin kejatuhan rejeki nomplok tidak terduga? Maka sekali-kali jadilah sumber rejeki nomplok tidak terduga untuk orang lain lebih dahulu.

Kita tidak ingin dimarahi, atau dimaki atau dibenci orang lain, maka jangan berikan kemarahan, kebencian atau makian kepada siapapun.

Dan sebagainya.

Pokoknya, SEMUA, apapun itu yang Kita inginkan, maka berikanlah lebih dahulu kepada orang lain. Maka Kita akan mendapatkannya juga (berlipat ganda pula). Maka pemberian Kita akan ampuh mengalirkan rejeki tiada habis dalam hidup Kita.

Contoh cerita:

Suatu ketika seorang pria tersesat di gurun pasir. Ia hampir mati kehausan.
Akhirnya, ia tiba di sebuah rumah kosong. Di depan rumah tua tanpa jendela dan hampir roboh itu, terdapat sebuah pompa air. Segera ia menuju pompa itu dan mulai memompa sekuat tenaga. Tapi, tidak ada air yang keluar. Lalu ia melihat ada kendi kecil di sebelah pompa itu dengan mulutnya tertutup gabus dan tertempel kertas dengan tulisan,

“Sahabat, pompa ini harus dipancing dengan air dulu. Setelah Anda mendapatkan airnya, mohon jangan lupa mengisi kendi ini lagi sebelum Anda pergi.”

Pria itu mencabut gabusnya dan ternyata kendi itu berisi penuh air. Kemudian dia berpikir, “Apakah air ini harus dipergunakan untuk memancing pompa? Bagaimana kalau tidak berhasil? Tidak ada air lagi. Bukankah lebih aman saya minum airnya dulu daripada nanti mati kehausan kalau ternyata pompanya tidak berfungsi ? Untuk apa menuangkannya ke pompa karatan hanya karena instruksi di atas kertas kumal yang belum tentu benar?”

Untung suara hatinya mengatakan bahwa ia harus mencoba mengikuti nasihat yang tertera di kertas itu, sekali pun berisiko. Ia menuangkan seluruh isi kendi itu ke dalam pompa yang karatan itu dan dengan sekuat tenaga memompanya. Benar!! Air keluar dengan melimpah. Pria itu minum sepuasnya.

Setelah istirahat memulihkan tenaga dan sebelum meninggalkan tempat itu, ia mengisi kendi itu sampai penuh, menutupkan kembali gabusnya dan menambahkan beberapa kata di bawah instruksi pesan itu: “Saya telah melakukannya dan berhasil. Engkau harus mengorbankan semuanya terlebih dahulu sebelum bisa menerima kembali secara melimpah.”

#Boomerang

PERINGATAN:
Karena setiap pemberian kita dikembalikan ke kita berlipat ganda, maka berhati-hatilah dengan ‘apa yang Kita berikan’.

Berikan hanya yang positif saja.
Ibarat sebilah pisau tajam yang bisa sangat berguna tapi juga bisa melukai kita, memberi yang negatif ke lingkungan atau orang lain juga akan dikembalikan ke kita berlipat ganda.

Jadi pastikan Kita tidak memberikan kata-kata yang buruk, misalnya, atau tindakan kasar, atau merugikan atau curang atau menyakiti atau apapun yang buruk dan jahat, kepada siapapun, baik sadar maupun tidak.

Karena hukum Alam tidak akan meleset, dan Kita juga akan mendapat ganjaran negatif serupa yang berlipat ganda. Kita tidak ingin itu bukan?

Dan tidaklah seseorang membuat dosa melainkan keburukannya kembali kepada dirinya sendiri.
~ Qur’an: Al An’am: 164 ~

Kita tidak ingin boomerang tajam yang berisi energi negatif yang kita lemparkan kembali ke kita berlipat sepuluh tanpa bisa kita tangkis dan akhirnya melukai kita sendiri.

Jadi silahkan mulai memberi dan menerapkan syarat-syarat memberi TepatGuna di atas.

Lalu beritahu temanmu tentang setiap kesuksesan yang menghampiri sebagai akibatnya.

 

Tambahan cerita:

Akan lebih khusus yg sambil dan biasa ngopi, pasti lebih bs merasakan tulisan ini… Hehe..

*Petuah Sinto Gendeng kepada Wiro sableng*

Suatu sore hujan turun di padepokan sinto gendeng. Sang Guru meminta si Murid, Wiro sableng untuk membuat minuman kopi.

*Guru : Tolong buatkan kopi dua gelas untuk kita berdua, tapi gulanya jangan engkau tuang dulu, bawa saja ke mari beserta wadahnya.

*Murid : Ya Guru.

Tidak berapa lama, si murid sudah membawa dua gelas kopi yang masih hangat dan gula di dalam wadahnya beserta sendok kecil.

*Guru : Cobalah kamu rasakan kopimu , bagaimana rasa kopimu?

*Murid : Guru, rasanya sangat pahit sekali.

*Guru : Tuangkanlah sesendok gula, aduklah, bagaimana rasanya?

*Murid : Rasa pahitnya sudah mulai berkurang guru.

*Guru : Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

*Murid : Rasa pahitnya sudah berkurang banyak guru.

*Guru : Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

*Murid ‘ Rasa manis mulai terasa tapi rasa pahit juga masih sedikit terasa guru.

*Guru : Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

*Murid : Rasa pahit kopi sudah tidak terasa, yang ada rasa manis guru.

*Guru : Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

*Murid : sangat manis sekali guru.

*Guru : Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

*Murid : Terlalu manis, malah tidak enak guru.

*Guru : Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

*Murid : Aduh guru, rasa wedang kopinya jadi tidak enak, lebih enak saat ada rasa pahit kopi dan manis gulanya sama-sama terasa guru.

*Guru : Ketahuilah muridku, jika rasa pahit kopi ibarat kefakiran hidup kita dan rasa manis gula ibarat harta, lalu menurutmu kenikmatan hidup itu sebaiknya seperti apa muridku.

Sejenak sang murid termenung, lalu menjawab.

*Murid : Ya Guru, sekarang saya tahu, kenikmatan hidup dapat aku rasakan jika aku dapat merasakan hidup seperlunya, tidak melampaui batas. Terimakasih atas pelajaran ini guru.

*Guru : Ayo muridku, kopi yg sudah kamu beri gula tadi, campurkan dengan kopi yang belum kamu beri gula, aduklah, lalu tuangkan dalam kedua gelas ini, lalu kita nikmati segelas kopi ini.

Si murid lalu mengerjakan perintah gurunya.

*Guru : Bagaimana rasanya muridku?

*Murid : rasanya nikmat guru…

*Guru : Begitu pula jika engkau memiliki kelebihan harta, akan terasa nikmat bila engkau mau membaginya denga yang fakir.

*Murid : Terima kasih atas petuah guru.

*Selamat menikmati ngopi bersama sahabat,….*

Salam Rahayu sembari Ngopi lur…

 

 

Salam Rahayu.