Menu

Dzikir

11/04/2017 - Article Tentang Ilmu Hikmah
Dzikir

Dzikir yang Sempurna
Ketika semua telah lenyap, yakni fana’ di Hadhirat Allah SWT, yang tertinggal hanya Ruh Suci (Ruh al-Quds). Ia melihat dengan Nur Allah, ia melihat Allah, ia melihat untuk Allah. Tidak ada bayangan dan tidak ada yang menyerupai Allah, sebagaimana firman-Nya :

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Q.S. Asy-Syura: 11)

Satu yang tertinggal dan mutlak, yakni Nur Suci. Suatu karunia yang tinggi yang diberikan kepada orang yang utama. Tidak ada lagi yang ingin diketahuinya setelah tingkat ini. Inilah peringkat fana’ (lenyap dan musnah). Tingkat puncak yang dapat dicapai oleh manusia ketika berada di alam fana’ ini, tidak ada lagi, kecuali Allah. Hanya Allah tempat bertanya, dan hanya Allah pula yang memberikan jawaban. Maka di peringkat itu seseorang sangat dekat dengan Allah hingga tidak ada siapa dan apapun yang menjadi celah di antara dia dengan Allah.

Itulah keadaan ketika seseorang menjadi ‘kosong’, tanpa diri, kecuali Zat Allah yang wujud. Itulah pula keadaan ‘bersatu’ dan ‘berpadu’ dengan Allah, karena hati seorang Mu’min adalah rahasia Tuhan.

Hal serupa juga diberikan secara khusus sebagai karunia kepada orang-orang yang khusus pula, orang-orang yang mencari-Nya hingga bertemu dengan-Nya, orang yang telah berma’rifah kepada Tuhan Penciptanya, yang telah mengenali Tuhannya, dan kemudian Tuhan pun mengenalinya, yang telah mencintai dan merindukan Tuhan Penciptanya, kemudian Tuhan Pencipta pun mencintai dan merindukannya. Ucapan-ucapannya sangat sulit dituangkan ke dalam bentuk tulisan karena terlalu sulit dan tidak dapat diuraikan. Peristiwa atau keadaan ini bukanlah omong kosong. Karena itu, setiap orang dapat menginterpretasikannya dengan sesuka hati. Orang yang belum mengetahui hal ini, artinya mereka masih jahil. Dan orang yang jahil tidak boleh membuat interpretasi keraguan dan kekeliruan, yang akhirnya membawa keadaan tindakan saling menuduh, sesat dan menyesatkan.

Bagi orang yang belum mengenal keadaan fana’ ini, sebaiknya menjauhkan diri darinya. Dan orang yang masih berendam di tepi pantai yang dangkal, jangan mencoba-coba menduga lautan yang dalam, karena kelak yang ditemuinya bukan hidayah, melainkan kesesatan.

Ini bukan medan permainan untuk menguji nasib. Siapa suka boleh berbicara mengikuti nafsunya, atau menurut akalnya yang sempit. Ini adalah ahwal hakiki yang menghendaki ma’rifah yang hakiki pula.

Akan tetapi, bagi orang yng benar-benar sudah mengenal yang haq dan yang batil, dia tidak akan berhenti. Apa yang dicarinya selama ini telah ditemukannya. Dia telah mengenal dirinya, dan kini dia telah mengenal Tuhannya. Dirinya adalah hamba. Sebagai seorang hamba, dia tidak memiliki apa-apa, karena Zat Ketuhanan itulah Tuannya yang memiliki segala kekuasaan-Nya.

Inilah keadaan ketika manusia melepaskan dirinya dari segala perkara, dari segala sesuatu selain Allah, mengosongkan diri dari segala sesuatu, kecuali Allah. Maka, ketika itulah Allah akan memberi pakaian kepada manusia berupa sifat-sifat Ketuhanan, dan tenggelamlah ia di dalam sifat-sifat Ketuhanan itu sehingga semua gerak-geriknya tidak terlepas dari sifat-sifat Tuhan yang Maha Besar lagi Maha Agung.

Semua itu adalah kesadaran ruhani yang sangat dalam artinya, hasil dari mengenang dan memusatkan renungan hati pada maksud dan pengertian batin Asma’ Allah tersebut

Membersihkan Ruh atau JIWA

HaKikat batin atau keadaan hati kita juga bisa tercemar, jika kita terus melalaikan diri kita dan tidak menjaga gerak-geriknya. Sebagaimana yang tampak pada fisik kita yang bisa saja menjadi kotor, demikian pula batin kita. Ia dapat dikotori oleh perangai dan perbuatan yang jahat, serta tindakan yang membahayakan diri sendiri dan orang lain. Semua tingkah laku yang buruk akan membahayakan batin kita, termasuk sifat-sifat negatif, seperti sombong, takabur, dengki, congkak, suka mengadu domba manusia, fitnah, marah, hasad, syirik, dan banyak lagi.

Ruh atau jiwa juga bisa kotor karena memakan makanan haram, lisan yang mengeluarkan kata-kata culas dan ungkapan-ungkapan yang menyakitkan hati, telinga yang suka mendengar fitnah dan mengumpat orang, tangan yang suka melakukan perbuatan buruk, kaki yang melangkah ke tempat maksiat atau mengikuti orang-orang yang zalim, kemaluan yang melakukan zina, dan sebagainya. Zina dalam hal ini berlaku umum, bukan hanya berlaku untuk kemaluan, tetapi dapat pula berlaku untuk mata, telinga, hidung, kaki dan tangan, dan lain sebagainya. Zina mata dilakukan dengan memandang yang terlarang, yakni yang haram, zina telinga dilakukan dengan mendengarkan hal-hal yang culas, zina hidung dilakukan dengan mencium, zina tangan dilakukan dengan memegang, dan zina kaki dilakukan dengan berjalan ke arah kemaksiatan.

Bila Kebersihan Batin Tercemar
Apabila kebersihan batin atau ruhani tercemar dan ‘wudhu keruhanian’ batal, maka penyucian diri perlu (wudhu’ atau mandi keruhanian) diperbarui dengan taubat, yaitu menyadari dosa yang telah dilakukan dengan penuh penyesalan hingga mengeluarkan air mata, dan dengan berazam dan bertekad tidak akan mengulangi kembali kesalahan atau dosa yang sama, serta memohon ampun dan berdoa kepada Allah agar terhindar dari dosa itu.

Masalah ini tampaknya mudah, namun pada hakikatnya tidak demikian, taubatan nasuha yang harus dilakukan manusia itu mempunyai beberapa persyaratan yang jika tidak terpenuhi, tidak akan diterima taubat seseorang itu. Penyesalan adalah salah satu syarat taubatan nasuha. Tegasnya, bertaubat dengan lisan semata tanpa diikuti oleh hati dan perasaan menyesal, tidak akan berfaedah sama sekali. Malah hal itu bisa membawa manusia pada celaka dan dosa yang lebih besar. Oleh karena itu, hendaknya kita berhati-hati dalam bertaubat.

Hati terlebih dahulu harus dibersihkan dari segala yang mengganggu. Pengganggu hati yang pertama adalah tuntutan dalam diri terhadap kebendaan dan keinginan hawa nafsu yang selalu mencemarkan hati. Apabila hati telah bersih, niscaya manusia akan mencari jalan menuju kepada Allah. Ketika itu hatinya akan dipenuhi dengan takut kepada Allah, taqwanya akan terlihat dari segala gerak-geriknya, karena ketakutannya itu telah menariknya dekat kepada Allah. Kini ia akan melakukan perbuatan-perbuatan yang baik saja. Apabila hatinya teringat pada perbuatan yang jahat, tentu sifat takutnya akan menghalangi dan mengingatkannya tentang balasan Allah. Dalam keadaan seperti inilah taubatnya akan terkesan dan kemudian menjadi taubatan nasuha.

Mukmin itu harus meninggalkan tabiat yang terdahulu dan bergerak ke arah Tuhannya. Selagi dia mengikuti jalan yang biasa, yakni jalan tabiatnya yang dahulu, niscaya dia akan terjerumus ke dalam pengaruh-pengaruh negatif yang akan mencelakakan dirinya. Dia akan kembali berbuat dosa dan kesalahan yang sudah biasa dilakukannya, karena tabiat sudah melekat pada dirinya. Dosa yang terus-menerus dilakukan itu melanggar perintah syariat, dan perintah syariat juga merupakan perintah Allah.

Seandainya dia gagal menahan diri dari perbuatan buruk dan jahat itu, maka hendaknya dia memohon bantuan kepada Allah dengan jujur dan ikhlas agar Allah melimpahkan taufiq dan hidayah-Nya sehingga dia dapat meninggalkan dosa dan maksiat itu. Semua perasaannya seharusnya ditujukan hanya kepada Allah semata, tidak kepada yang selain Dia.

Salam Rahayu