Menu

Gardaning Kekuatan

10/07/2017 - Article Tentang Ilmu Hikmah
Gardaning Kekuatan

Gardaning kekuatan keplasing cahyo,

Ingenge bawono geblaking katrisnan sakureping langit.

 

KISAH PARA BURUNG

Berkumpulah seluruh jenis burung di dunia ini untuk mencari keberadaan dari Sang Raja Burung yaitu Simurgh. Burung Hud yang sudah pernah melihat Sang Raja tersebut berkata kepada sesiapa yang ingin menemukan Sang Raja Burung maka ikutilah sang Burung Hud. Dan dia senantiasa menceritakan keindahan, kemegahan, keagungan Sang Raja tersebut, sehingga memikat para burung untuk mengikutinya berjalan menemui Sang Raja Burung tersebut.
Memang dari dulu Burung Hud identik dengan Guru Pembimbing / Pir dari para kaum burung di dunia ini. Maka berkumpulah seluruh burung dibawah pimpinan Burung Hud untuk berjalan menuju Sang Simurgh.
Perjalanan ini teramat bahaya, biarlah kalian serahkan diri kalian sepenuhnya kepada bimbingan dari ku, karena perjalanan ini hanya dapat ditempuh oleh dia yang sudah pernah sampai kepada Singgasana Sang Simurgh itu sendiri. Begitu pula dulu aku saat dibawa oleh pendahulu ku. Perjalanan ini menempuh 7 lembah (7 langit, 7 lapis kesadaran, 7 hijab, 7 maqam, 7 lata’if ) yang penuh tipudaya, bila kalian tersesat , cukup ingatlah akan diriku, niscaya kalian akan selamat”. Kata burung Hud
Setelah itu terbanglah koloni burung tersebut melintasi lembah pertama.

Pada lembah pertama beberapa burung beristirahat karena merasa kecapaian dan ingin menikmati suasana perjalanan dan minum sebentar dari air lembah tersebut. Disinilah masuk bisikan awal ke qalbu para burung itu untuk berhenti sejenak. Setelah mendapat bisikan tersebut, mereka yang terlena dan beristirahat kini mereka merasa menikmati keadaan di lembah tersebut tanpa mengingat pesan burung Hud.
Sedangkan burung Hud terus terbang bersama koloninya dan melewati begitu saja lembah pertama itu.

Selanjutnya mereka yang selamat dari bisikan2 di lembah pertama kini telah memasuki lembah ke dua. Mereka menemui keindahan lembah kedua sebagai keindahan yang dirasakan oleh naluri hewanimereka, kenikmatan ragawi dan insting mereka. Burung bulbul menemukan bunga yang teramat indah dan terpikat oleh bunga di lembah tersebut. “Ah cukup sudah perjalanku, inilah keindahan yang dijanjikan, inilah surga yang ada di kisah para burung terdahulu, biarlah aku disini saja.
Burung Hud berusaha membujuk terus, namun burung Bulbul sudah terlanjur menutup mata hatinya dan melupakan janjinya agar mempercayakan sepenuhnya pada burung Hud dalam perjalanan ini.
Burung Hud berfikir daripada ia mengorbankan ribuan burung yang ada dibelakangnya, maka ia memilih untuk meninggalkan burung Bulbul dan meneruskan perjalanan.

Maka masuklah mereka pada lembah ke tiga, lembah yang penuh angkara murka, penuh kemarahan. Mereka yang lupa pada pesan burung Hud terpancing turun ke lembah karena penasaran. Dan mereka pun seketika menjadi gila, mengamuk, saling mematuk dan membunuh. Maka berkuranglah lagi jumlah burung2 yang mengikuti burung Hud meneruskan perjalanan menuju ke lembah ke 4.

Dari kejauhan mereka melihat lembah ke-empat adalah tempat yang dipenuhi makhluk2 yang hidup dalam kedamaian, senatiasa senyum bahagia, hidup berkecukupan dalam segi materi dan yang lainnya. Maka beberapa burung pun tergerak hatinya Indahnya kebahagiaan kaum disini, inilah kedamaian, kekayaan, kebahagiaan sejati, sedangkan kita masih berhari2 lagi dalam kelelahan dan cobaan untuk menemukan Sang Raja Simurgh yang belum jelas keberadaaannya. Aku sangat Iri pada kaum disini. Maka turunlah beberapa burung yang terkena bisikan tersebut, mereka terjerumus karena rasa iri mereka terhadap lembah yang indah namun penuh tipudaya Iri bagi kaum yang melintasinya.

Sisa rombongan burung terus terbang melintasi lembah ke lima dan kini telah berada diatas lembah tersebut tanpa ada gangguan apapun. Dari beberapa burung yang ada mereka masih terngiang2 akan nasib kawannya yang tertipu di lembah2 sebelumnya dan mereka berfikir “Aku sudah menang melewati 4 lembah dan menang daripada teman2ku yang tertinggal dilembah2 belakang. Ini membuktikan bahwa kualitas ku sudah seperti Burung Hud Sang Pembimbing kita ssssssshhhhtt… masuklah bisikan halus yang bernama Kesombongan kedalam dada beberapa burung tersebut. Seketika hilang akal sehat mereka dan mereka turun kelembah ke lima tersebut dan menginjak2 tanah lembah tersebut sambil memaki Wahai lembah ke lima , inilah aku! Aku tak terpengaruh oleh tipu daya mu dan teman2mu lagi, aku sudah menang!
Sementara mereka merayakan kemenangan dilembah itu dalam kesombongannya, mereka tertinggal oleh rombongan yang terus teguh melintasi lembah itu tanpa menengok kebelakang.

Kini burung Hud dan kaumnya yang tersisa melewati lembah ke enam, dimana dilembah memiliki hawa yang membuat logika/ akal/ otak ragawi mereka berkembang teramat kuat, sehingga saking kuatnya otak ragawi ini menutupi rasa cinta mereka pada Simurgh Sang Raja Burung yang sebelumnya sangat menggebu-gebu. Logika mereka yang teramat kuat mulai menghitung untung rugi yang didapat dari perjalanan ini, perjalanan yang meletihkan, perjalanan tanpa tujuan yang jelas, yang hasilnya tak tahu untuk apa. Iya yah, kenapa pula kita pergi meninggalkan anak istri kita, untuk menemui Sang Raja??? Lantas kalau sudah ketemu Raja kita mau apa ?? ..Astaga, kita teramat merugi dalam perjalanan ini.!! Alangkah baiknya kita kembali ke rumah kita saja, mengurus anak istri. Biarlah burung Hud dan yang lain meneruskannya sendiri, dan biarkan mereka menceritkan hasilnya nanti.
Dengan air mata berlinang dan hati yang hancur Burung Hud meninggalkan mereka untuk meneruskan memimpin kaum-kaumnya yang setia mencari Sang Simurgh Burung Hud menangis karena ia telah menganggap para Burung2 yang telah berjalan bersamanya lebih ia cintai dari anak kandungnya, dalam hati ia selalu menyebut para pengikutnya itu sebagai Anak-anaku yang ku kasihi. Begitulah cinta kasih seorang Pembimbing sejati.
Begitupula para burung memanggil Burung Hud sebagai orangtua mereka oh Ayahku kata mereka.
Begitulah hubungan kasih yang teramat agung antara mereka yang terjalin setelah melintasi lembah2 cobaan tersebut.

Kini para kaum burung dibawah pimpinan Burung Hud melintasi kelembah terakhir, lembah ke tujuh, lembah terakhir, stasiun terakhir. Ketika melintasi lembah ini terjadi keanehan lagi. Tubuh ragawi para burung terasa tercabik2, sakit, seperti disayat-sayat dan ruh serasa terlepas dari tubuh, namun terkadang datang sensasi yang lain seperti rasa ringan dan sebagainya.
Oh mengapa ini rasanya.. sakit sekali namun mereka percaya sepenuhnya oleh kata2 burung hud , Tenang dan sabarlah kuatkan diri kalian teruslah terbang mengikutiku, dibalik lembah ini disanalah Istana Simurgh disana semua rasa akan terlewati.
Para burung berjuang sekuat tenaga melawan keterbatasan ragawinya. Disinilah Keseluruhan Tubuh / Kullu Jasad diuji.
Setelah mereka berhasil mengalahkan segala rasa / sensasi yang datang dan mengalihkan segenap kesadarannya kepada kesadaran Ruhani mereka…… lantas…. Semuanya terasa sangat ringan, karena mereka sudah tak terikat pada ragawi-nya semata lagi. Kesadaran tubuh yang berasal dari lumpur tanah ini sudah mereka lewati.
Dan mereka terus terbang melintas melewati lembah tersebut.
Bersamaan dengan terlepasnya dari keterikatan ragawi, Kini ego para burung sudah terkikis habis, sudah hilang Ter”Nafi”kan, yang kekal dan di”isbat”kan oleh mereka tinggallah kerinduan yang teramat dahsyatnya pada perjumpaan dengan Simurgh. Dan bahkan kesadaran Sang Raja Simurgh pun mulai bersemayam didalam jiwa para burung tersebut.

Dibalik lembah ke 7 itu berdiri istana Yang teramat Megah, temboknya terdiri dari pahatan berlian yang melebihi seluruh keagungan alam semesta dan dijaga oleh para pengawal yang Gagah perkasa.
Istana ini hanya dapat dihampiri oleh dia yang Telah mengikis semua sifat dan tipu daya diri yang tercermin pada ke 7 lembah sebelumnya. Segala tipuan dari Bisikan Waswas Qalbu, tipuan Kenikmatan Nafsu Hewani, tipu daya Angkara Murka, rasa Iri , Keangkuhan/Kesombongan , Logika akal ragawi , dan Keterikatan Pada Jasmani.
Para burung yang tinggal tersisa sangat sedikit merasa lelah dan berhenti didepat pintu masuk istana. Lantas mereka dihardik oleh penjaga Istana Simurgh tersebut. Namun karena kelelahan yang teramat sangat mereka pasrah dan tidak memperdulikan hardikan para penjaga istana tersebut. Lantas seketika para penjaga melihat kehadiran burung Hud yang mereka kenal, para penjaga langsung mempersilahkan masuk para burung tersebut kedalam istana.

Rasa kerinduan , penasaran , dan cinta yang meluap2 meliputi semua burung yang hadir dalam penantian akan perjumpaan dengan Sang Simurgh…… seperti apakah Ia, bagaimanakah WujudNya? bagaimanakah sifat Sang Raja?
Namun. Setelah berhampir menemui Sang Raja Burung tersebut, mereka terkejut terpana.
Mereka teramat mengenali Sang Raja , dan Ternyata Sang Raja Simurgh adalah cerminan dari Diri mereka sendiri, cerminan sejati Diri mereka….. dan Sang Raja yang dicari itu rupanya sebenarnya tidak pernah terpisahkan dari mereka, hanya saja mereka tidak menyadari kehadiranNya yang selama ini ada terus bersama mereka.. karena selama ini cermin diri mereka masih kotor.
Ya, rupanya perjalanan bersama burung Hud untuk Mencari Sang Raja itu sama dengan perjalanan Mengenal Diri sendiri..
Mereka teringat petuah burung2 bijak jaman dulu Barang siapa mengenal dirinya maka ia mengenal Rajanya/Tuhannya dan Kenali diri didalam diri.
Dan yang teramat bahagia tentulah sang burung Hud, karena ia telah menuntaskan tugasnya dari Sang Simurgh untuk membantu para burung di dunia untuk mengenalNya.

-end-