Menu

Ing Manunggaling Kawulo Marang Gusti

19/03/2017 - Article Belajar Kebatinan
Ing Manunggaling Kawulo Marang Gusti

Ing Manunggaling Kawulo Marang Gusti

——————————————————-

Pendekatan Kepahaman Nalar

jika kita mencintai dan menyayangi ibu kandung kita, (kita dulu menyatu dalam artian dalam kandungan beliau tapi apa ya terus jadi satu manunggal) kita sayang ke ibunda, berbakti dan mengatakan bahwa ibuku ada dalam diriku (hatiku) dan segenap aliran darahku. Apakah berarti badan ibu kita ada dalam badan kita? Itulah yang juga dimaksud dengan Manunggaling Kawulo Gusti. Adalah sebuah rasa yang mendalam, dan komitmen untuk berprilaku dengan segenap hati yang bersih. Bukan seperti yang diartikan: mempersatukan Tuhan (Allah) dengan diri kita. Bagi seorang Kejawen (ngleneng), dimana perasaan surgawi dan kejamnya neraka yang hakiki ada dalam hatinya sendiri. Mengapa perasaan surgawi ada dalam hati kita sendiri? Surga adalah sebuah perasaan yang membahagiakan (Damai-Nur illahi), yang mana dirinya sudah berhasil menikmati hidupnya yang bermanfaat, yang mana sekaligus prilakunya dapat bermanfaat juga bagi pihak lain (orang lain, alam, mahluk halus, sesepuh, dsb).

Mengapa kejamnya neraka ada dalam hati kita sendiri? Neraka adalah sebuah perasaan bersalah, karena merugikan pihak lain (orang lain, alam, mahluk halus, sesepuh, dsb). Perasaan benar dan bersalah bagi seorang Kejawen, didapat dari hasil Olah Roso. Sehingga ketika perasaan kejamnya neraka muncul dalam dirinya, maka seorang Kejawen tidak henti-hentinya untuk meminta ampun pada Gusti, untuk memohon tuntunanNya.

Kalau perasaan surgawi tersebut sudah ada dalam diri seseorang, maka seorang yang berbudi luhur, tidak akan lagi terpengaruh untuk berambisi masuk surga. Tetapi bagi seorang Kejawen yang masih terlalu merasa bersalah, dengan Olah Roso (tidak memerlukan nara-sumber apapun selain dirinya) dirinya akan dapat menemukan jalan keluarnya sendiri.

Memilih satu dari seribu pilihan adalah seribu jawaban dari semua pilihan dari Yang Kuasa saat kita melakukannya

Apabila TUHAN (ALLAH SWT) membukakan jalan bagi mu untuk ma’rifat maka jangan hiraukan amal mu yang masih sedikit itu karena Allah tidak membuka jalan tadi melainkan DIA Sendiri yang berkehendak memperkenalkan diri-Nya kepada mu “HIDAYAH”