Menu

Lentera Hati

22/08/2017 - Article Tentang Kehidupan
Lentera Hati

Lentera Hati
____________
By: Gus Mul

Dalam heningku aku melihatmu, dalam gundahku aq mendengarmu, dalam kejamku aku mengingatmu, dalam baiku aku besamamu.

Kala Aku bodoh, aku ingin menguasai orang lain. Tetapi kala Aku bijak, Aku ingin menguasai diri sendiri.

Mungkin Sudah saatnya para guru agama, pemuka agama, tokoh, ulama kita memberikan semua hal yang hidup (positive) karena Hukum Alam itu benar, jika cara kita tetep arogan dan membicarakan contoh2 keburukan neraka dan lain2 disetiap khotbahnya, maka bak seperti gravitasi apapun bahasa apapun budayanya akan berpijak ke tanah layaknya gravitasi, bicaralah yang baik2 belajarlah cara2 Rosul-mu “MUHAMAD SAW” dengarkan cara dia bersikap, berbicara, serukan kebaikan dengan penyampaian yang lembut dan ikhlas, sedikitkan bicara kasar dan burukmu, niscaya dunia ini damai dan menjemput surgamu “ciptakan surga sebelum surga sebenarnya”

Hidup itu bukan pilihan tapi menjalankan apa yg udah digariskan (jalan hidup),
Bukan jg mengalir tanpa nalar&hati.

Sesuatu yang kita sebut ‘nasib’ itu bukanlah sebuah keadaan yang permanen.

Dia sangat lentur, luwes, dan reaktif.
Dia berespon kepada kualitas sikap dan tindakan tindakan kita – tanpa menyumbangkan pendapatnya sendiri.

Dia – nasib itu, berupaya sangat netral” meskipun sebetulnya dia sangat berpihak kepada keberhasilan dan kebahagiaan kita.

Nasib sudah berdiri di samping peraduanku sejak mataku terpejam tadi malam.

Dia tidak sabar menunggu kebangunanku , agar pagi ini aku mengupayakan pelayanan kepada orang lain – kebaikan bagi orang lain yang penting bagi kebaikan sang nasib.

Tetapi, lebih sering daripada tidak, nasib itu dikecewakan oleh orang yang terjaga- tetapi tidak bangun.

Bagi mereka yang bangun – yang tegap dan bertenaga – dalam pekerjaannya; nasib akan mengambil bentuk sebuah istana yang megah dan gemerlap.

Tetapi, bagi mereka yang tidak bangun, walau pun terjaga; nasib akan mengambil bentuk sebuah penjara.

Reflection, thoughts of the heart :
Ketika sebuah telaga yang bening dgn aliran yg jernih terteteskan tinta hitam, dia akan melarutkan tinta itu ke semua sisi telaga dan dipastikan nanti bening kembali, Tapi: “sebesar apakah telaga bening itu dan seberapa banyakkah tinta yang menodainya ?
Hm… “Ngaji guru diri sejati” yang menentukan seberapa cepatnya hati ini bening kembali dan pikiran jernih kembali” dengan kepahaman kebijakan atas dirinya sendiri”

Salam Rahayu