Menu

Makhluk Halus

06/01/2021 - Wacana dan Prakata
Makhluk Halus

MAKHLUK HALUS
.
Jauh sebelum manusia ada, bumi ini sudah ditinggali oleh bermacam-macam makhluk, termasuk makhluk halus. Orang Arab menyebut makhluk halus itu jin, orang Jawa menyebutnya lelembut, orang Bali menyebutnya wong samar, dan banyak sebutan lain di daerah-daerah lainnya. Dalam beberapa manuskrip kuno disebutkan, manusia didapuk menjadi khalifah di bumi, pemimpin yang diharapkan mampu menjaga dan memakmurkan bumi. Di masa yang sangat lampau, manusia bisa hidup berdampingan dengan makhluk-makhluk itu. Mereka bisa melihat manusia, manusia pun bisa melihat mereka. Seiring pergantian zaman menuju Kaliyuga, kemampuan itu menurun, sehingga hanya sedikit manusia yang mampu melihat keberadaan mereka, dan sebaliknya. Meskipun demikian, ketidakmampuanmu melihat mereka bukan berarti mereka tidak ada. Mereka hidup bersamamu dalam ruang yang sama. Mereka bisa hidup di rumahmu, pepohonan besar, telaga, lautan, dan tempat-tempat lainnya. Meskipun kamu tidak bisa melihat mereka, jika batinmu peka kamu bisa merasakan keberadaan mereka, energi mereka. Kamu tak layak memusuhi mereka, mengusir mereka. Mereka sudah hidup di bumi terlebih dulu sebelum kamu, sudah menempati suatu kawasan sebelum manusia menjajahnya. Tapi sering kali kamu mengusir mereka, membenci mereka, takut melihat mereka. Bukankah itu tidak sopan sama sekali? Kamu takut mereka karena mereka berbeda denganmu. Kamu merasa rupa mereka jelek karena berbeda dengan rupamu, dapuranmu. Tidakkah kamu pernah berpikir bahwa wajahmu pun jelek di mata mereka karena berbeda dengan wajah mereka, sehingga mereka pun takut kalau ketemu kamu?
.
Sekali lagi, ketidakmampuanmu melihat mereka bukan berarti mereka tidak ada. Kamu bisa merasakan kehadiran mereka. Kalau kamu tidak menghormati keberadaan mereka, membenci mereka, mengusir mereka dengan mendatangkan dukun pemburu hantu atau membacai mereka Ayat Kursi dengan niat mengusir, menghancurkan rumah-rumah mereka di hutan atau tempat-tempat keramat, mereka pasti akan merasakan sikap permusuhanmu. Jika kamu dimusuhi seseorang, kamu pasti sedih dan melawan, kan? Demikian pula mereka. Mereka terganggu. Mereka bersedih. Mereka marah. Apa jadinya jika banyak di antara mereka marah, bersedih, terusir dan terlunta-lunta? Energi di sekitarmu akan memburuk dengan energi kesedihan dan kemarahan mereka. Orang-orang yang lemah di antara kalian akan mudah diganggu atau dirasuki mereka yang kedamaiannya terganggu. Jangan salahkan mereka. Kamulah yang salah. Kamu telah berubah menjadi setan, yang semena-mena dan mau menang sendiri.
.
Di masa lalu, leluhur kita menghormati keberadaan mereka karena mereka tahu bahwa mereka hidup berdampingan dengan banyak makhluk halus. Banyak cara leluhur menghormati keberadaan mereka. Beberapa di antaranya adalah dengan memelihara kawasan-kawasan keramat, seperti hutan-hutan lindung, pepohonan besar, punden-punden, yang menjadi rumah mereka. Juga memberikan sesajen kepada mereka berupa kemenyan dan bunga-bunga karena mereka suka wewangian. Sebetulnya bukan soal sesajen itu yang terpenting, melainkan energi baik yang kita pancarkan pada mereka. Pemberian sesajen itu tidak berarti serta-merta leluhur menyembah dan mengabdi pada mereka, melainkan sebuah upaya menghormati keberadaan mereka. Ini yang sering disalahpahami. Kamu dengan mudah menyebut tindakan itu dengan sebutan syirik. Kamu tidak tahu maksud leluhurmu dan, yang lebih celaka, kamu tidak tahu makna syirik yang sesungguhnya. Bukankah kamu khalifah, pemimpin, di muka bumi ini? Kalau kamu merasa menjadi khalifah, makhluk paling keren di jagat raya, bukankah seharusnya kamu mengasihi siapa saja yang hidup bersamamu? Memakmurkan bumi yang kalian tempati ini? Tetapi, yang tidak bisa dimungkiri, pemberian sesajen semacam itu pun kadang mengarah pada penyembahan, permohonan dengan syarat-syarat tertentu. Ini yang terlarang! Kamu tak boleh menyembah pada apa pun selain pada Gusti di dalam dirimu sendiri. Jika kalian bisa bersikap bijak, insya Allah tanah tempatmu hidup tidak akan menjadi singup (gersang dan tak nyaman) seperti yang saat ini banyak kita jumpai. Hormati keberadaan mereka, tapi jangan sampai terjerumus ke dalam penyembahan dan pengabdian kepada mereka. Itu saja. Ya?

Gus Mul