Menu

MATA BATIN

19/03/2017 - Article Belajar Kebatinan
MATA BATIN

MATA BATIN

____________________________

Tidak semua yg terlihat dan terdengar bisa dirasakan

Tetapi juga yg terasa tidak harus terdengar dan terlihat

Krn sejatinya rasa hanya bisa dirasakan dengan HATI

Contoh sederhananya aja: bgmn bisa menikmati pemandangan sawah, di pagi hari, diselimuti kabut, matahari pagi diiringi embun pagi, padi yg mulai menguning, dgn segarnya angin alam yg bertiup, gemericik air sungai, nyiur melambai… Terangkan kepadaku indahnya dimana klo berdasarkan yg kita lihat dan kita dengar… Tapi jila dirasakan dgn hati semua alunan distorsi alam itu akan terasa indah dan mendamaikan ya…

Saat hati mulai bersenyawa

MATA BATIN… Bila bicara hal ini maka kita harus paham dasaran ilmunya terlebih dahulu, paling mudah dan pada umumnya kita kenal dengan kajian ilmu kebatinan atau orang jawa bilang olah roso, untuk itu saya coba melakukan pendekatan kajian ilmu kebatinannya (modal) atau dasarannya.

KALAU kita berbicara tentang ilmu kebatinan, yang dikatakan sepuh atau ‘tua’ itu bukanlah karena umur lahiriahnya, misalnya kakek tua renta yang sudah berusia lanjut dan berjenggot panjang. Atau karena wujud penampilan lahiriahnya yang mengesankan orang lain. Bukan pula karena derajat dan martabatnya yang dihormati dalam pergaulan bermasyarakat. Juga bukankarena kekayaan harta bendanya, sehingga ia dipandang dan disegani orang lain. Bukan itu!

Sepuh atau ‘tua’ di sini lebih dititikberatkan pada kemampuan spiritualnya, ketinggian ilmu kebatinannya, kebersihan jiwanya, dan keluhuran budi pekertinya. Pada tingkat kesempurnaan atau tingkat kasepuhan itulah yang menjadi tolak ukur bagi mereka untuk pantas disebut para sepuh atau para ahli ilmu ‘tua’.

Di Indonesia ini sebetulnya banyak terdapat orang pandai (ahli ilmu kebatinan) dan hampir di semua daerah menyimpan potensi. Di antara yang masih hidup dan yang masih berkembang, tentu saja mereka itu lebih senang ‘menyepi’, kurang menyenangi publisitas, dan tak pemah memimpikan mengejar kebesaran nama kosong, serta kemaruk harta. Kehidupan yangtenangdan adem-ayem ini, bukan berarti menjauhi duniawi. Bagaimanapun juga mereka adalah manusia biasa yang hidup berkeluarga, bermasyarakat, dan bernegara. Perbedaannya hanya terletak padanilai-nilai hidup yang menjadi prinsip kehidupannya. Hidup itu hendaklah yang wajar saja, beradadi tengah antara berlebih lebihan dan kekurangan. Karena jiwa terbebas dari nafsu, maka hidup menjadi mengendap tenang. Rasa ketenteraman itu hadir oleh sikap tunduk, pasrah, dan menyerah kepada keadilan Allah. Sikap pasrah inipun jangan diartikan fatalis, menyerah begitu saja pada nasib. Pasrah di sini mengandung dua nilai, yaitu:

Pasrah total dalam hal ibadah kepada Allah. Mengabdi kepada Tuhan itu hendaknya jangan dikotori oleh pamrih. Menyembah dan sujud kepadaNya bukan karena mengharap imbalan surga atau karena takut siksa neraka. Ibadah yang masih dipengaruhi oleh sifat pamrih demikian ini belum mencapai puncak ketakwaan, karena masih belum tulus ikhlas dan belum murni niatnya.

Pasrah sadar dalam hal hidup bermasyarakat. Hidup tidak perlu ngayawara, berbuat yang aneh-aneh, terlalu ambisi, dan selalu membanding-bandingkan kehidupan orang lain. Sebab hidup yang demikian itu pasti tidak akan medatangkan ketenteraman. Jiwa akan gelisah, karena nafsu masih membelenggu diri. Syirik, iri, dengki, pamer, sombong, dan tak mau diremehkan oleh orang lain adalah sebagian dari penyakit-penyakit hidup.

Orang-orang yang mempunyai prinsip teguh tidak akan tergoyahkan lagi oleh iming-iming keserakahan materi. Baginya, hidup ini sesungguhnya mempunyai keseimbangan yang selaras dan teratur.Jika manusia secara sadar memilih duniawi, maka ia harus siap menghadapi konsekwensinya. Mungkin saja kehidupan lahiriahnya menanjak pesat dan berlimpah kekayaan, namun jiwanya gersang dan kering. Hatinya sering mengeluh dan anehnya bila ditanya oleh orang lain ia menjawab, “Aku tidak merasa bahagia.” Orang lain yang hanya memandang ‘dari luar’ mungkin tidak percaya, tapi orang yang merasakan sendiri jelas tak bisa membohongi hati nuraninya. Yang dimaksud memilih kehidupan duniawi di sini adalah orang-orang yang sengaja (secara sadar) ikut arus keserakahan materi,lebih-lebih bila jalan yang ditempuhnya cenderung salah.

Sebaliknya pula, mereka yang secara sadar memilih (lebih condong) kehidupan ruhani, maka ia harus siap menghadapi konsekwensinya. Kebanyakan mereka ini berhasil dalam hal mengejarkepuasan kebatinan, memiliki kelebihan ilmu kebatinan, dan bahkan banyak pula di antara mereka yang menjadi tersohor ‘kesaktiannya’. Tapi kehidupan dunia dan rumah tangganya begitu memprihatinkan. Bahkan ada yang sangat menyedihkan, karena terlalu miskinnya, tidak memiliki apa-apa kecuali selembar pakaian yang menutupi tubuhnya. Walaupun pengertian ‘menyedihkan’, sengsara, dan hina itu tidak lebih cuma dari pandangan relatif. Mereka yang belum mencapai tingkat kesempurnaan dalam hal pencerahan diri, terkadang masih belum dapat melepaskan ikatan ekonomi.

Mereka masih memiliki ‘rasa’ akan kekurangannya itu.

Berbeda dengan orang yang telah mencapai kesempurnaan dan telah berhasil menemukan jati diri, seperti kehidupan orang-orang suci (hati dan pikirannya hanya ditujukan kepada Tuhannya, ia sudah tidak mempedulikan ‘dunia’ sekelilingnya, bahkan terhadap dirinya sendiri puntak diurus). Orang-orang yang telah mencapai tingkatan di atas kearifan ini sering disebut maunah. Orang yang tekun beribadah setiap saat, setiap detik, tiap jantungnya berdetak, hati, dan pikirannya selalu tertuju kepada Allah Swt. Ia begitu mencintai Tuhannya dan melebihi segala–galanya.

Bagi orang-orang yang demikian itu, prihatin, sedih, sengsara, dan hina sudah tidak ada artinya. Mereka lebih merasa bahagia dengan keadaannya yang serba kekurangan. Pada zaman silam, banyak di antara tokoh-tokoh ilmu kebatinan yang hidup jauh dari hingar-bingar kota. Hukum kerajaan memungkinkan seseorang melakukan tapa sepi. Ada yang telah bertahun-tahun hidup menyepi didalam gua, di puncak-puncak gunung, di lereng-Ierengnya, di kedalaman jurang-jurang yang menyeramkan,ditengah hutan-hutan belantara, dan di balik batu-batu karang laut yang terjal, begitu selesai bertapa mereka masih mau kembali hidup bersama masyarakat lagi.

Namun banyak pula di antara mereka yang telah ‘bosan’ dengan kepalsuan-kepalsuan duniawi, akhirnya lenyap dari percaturan hidup bebrayan, dan tak ada yang tahu ke mana sebenamya mereka itu pergi. Barangkali saja ada yang memutuskan pergi meninggalkan kampung halamannya dan menjelajah alam di mana kakinya mampu menyentuhnya mencari pengalaman-pengalaman baru. Sebagian lagi bahkan tetap tinggal selamanya dalam ‘pertapaannya’.

Zaman terus bergerak menuju perubahan-perubahan. Hukum yang berlaku bukan lagi hukum kerajaan, melainkan hukum negara merdeka dan menuju kapitalis. Tatanan hidup bermasyarakat pun banyak mengalami perubahan, penyesuaian, dan penyempurnaan. Apa yang dianggap aturan lazim pada masa silam, ternyata sekarang dinilai sudah usang dan tidak sesuai lagi diterapkan dalam kehidupan. Walau begitu, bukan berarti semua tatanan produk zaman silam lantas dilupakan. Karena tak kalah banyaknya dengan hal-hal baru yang datang kemudian, maka dalam hal warisan budaya leluhur justru tetap dipakai dan bahkan dikembangkan oleh generasi seterusnya yang sadar dan mencintainya. Para ahli ilmu kebatinan di masa negara merdeka kemudian meneruskan laku-Iaku spiritual. Degan rasa sadar dan penuh tanggung jawab mereka melakukan tapa rame (mengamalkan segala ilmu kepandaiannya untuk kesejahteraan umat, berarti ia harus berani terjun di tengah-tengah galaunya dunia ramai). Kesimpulan dari makna hidup pasrah yang sadar itu:

Hidup adalah anugerah Tuhan yang wajib disyukuri. Di dalamnya terdapat hukum keseimbangan yang selaras, sehingga orang tak perlu menentang arus atau bahkan ikut hanyut. Agar tidak terseret arus yang menyesatkan, maka diperlukan suatu prinsip hidup yang utama. Berdiri di antara kenyang dan lapar, tidak rakus tapi juga tidak pelit. Hiduplah dengan wajar sesuai batas kemampuan. Tidak perlu mengeluh bila sedang mendapat cobaan Tuhan. Dan jangan sampai ‘lupa’ kepada-Nya jika mendapatkan kebahagiaan. Hindarkan sifat sombong, pamer, dan mau menang sendiri. Segala nikmat kehidupan yang diperoleh, bukanlah milik sebenarnya. Jika Tuhan berkenan, segala harta benda dan kebahagiaan itu pun dapat langgeng dinikmatinya. Sebaliknya, bila Tuhan berkehendak mencabut nikmat-Nya, maka hanya dalam sekejab saja segala kekayaan dan kebahagiaan itu dapat lenyap tak berbekas. Hidup pasrah yang sadar bukanlah mengajak hidup miskin, sebab orang harus berusaha dan bekerja mencari kehidupan yang layak. Dalamhalini hanyaditekankanpada’hidupwajar’. Rezeki yang datang tidak ditolak, bila itu datangnyadari keikhlasandan ketulusan hati.Jangan salah paham!

Hidup bukanlah milik pribadi. Adanya hidup itu sendiri menunjukkan keuniversalan, untuk dirinya sendiri, untuk keluarganya, untuk masyarakat, dan negara, bahkan untuk dunia sekali pun. Jika hidup yang dimiliki itu bermanfaat, barulah itu ada artinya. Oleh sebab itu, seorang peyakin ilmu kebatinan sejati harus ‘sadar’ bahwa hidupnya bukan untuk kepuasaan kebatinannya sendiri. Seorang yang berilmu harus berani hidup di tengah masyarakat dan ikut terjun dalam hiruk-pikuknya dunia nyata, bukan sebaliknya ia lari dari kenyataan. Untuk apakah segala ilmu yang dimiliki bila tidak untuk diamalkan? Dibawa pergi ‘menyepi’ sampai akhir hayatnya dan ‘hilang sia-sia’ begitu saja?

“Ilmu iku kelakone kanthi laku”

Pengertian laku di sini bukan menunjuk secara sempit atas laku tapa (prihatin, mesu diri) saja. Melainkan lebih dari itu, laku yang lebih luas selain laku ilmu adalah laku pelaksanaan atau pengamalan dari buah ilmu itu sendiri.

Nah yang patut digaris bawahi, ketika Anda ingin mempelajari ilmu kebatinan haruslah pintar dan pandai dalam mencari perguruan atau guru ilmu kebatinan itu sendiri. Mengapa demikian karena saat sekarang ini banyak sekali orang orang yang mengaku memiliki ilmu kebatinan dan mampu mengajarkan ilmunya tapi itu hanya omongan belaka dalam kata lain orang itu sebenarnya hanyalah orang awam yang tidak memiliki ilmu apa apa. Semoga dengan kedewasaan mental dan nalar menjadikan kita lebih mendekatkan diri kepadaNya.