Menu

Mukadimah

18/03/2017 - Article Tentang Gusmul
Mukadimah

“Sebaik-baiknya manusia ialah orang yang bermanfaat bagi orang lain”.
“Raihlah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, yaitu kebahagiaan Akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan kebahagiaan dunia; dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan(bodoh)” (Al-Qashash/28: 77).

Kutipan terjema’ahan ayat suci alqur’an diatas sangat memotifasi kami untuk terus berbenah dan berbuat yang terbaik untuk kemanfaatan dan kemaslahatan masyarakat, dengan mendorong masyarakat untuk terus belajar menuntut ilmu.

#Biasanya
Seseorang yang mudah sedih, galau, dengki, kesepian dan serasa hidup lambat, hampa, datar, adalah orang yang berlaku egois, pragmatis, sempit, dimana selalu memikirkan (kebahagiaan) untuk dirinya sendiri.

Alam berlaku bergantung pada perilaku kita.

#UlamaSekarang
Mungkin Sudah saatnya para guru agama,pemuka, ulama kita itu memberikan semua hal yang positive karena Hukum tarik menarik itu benar, jika cara kita tetep arogan dan membicarakan contoh2 keburukan neraka dan lain2 disetiap khotbahnya, maka bak seperti gravitasi apapun bahasa apapun budayanya akan berpijak ke tanah layaknya gravitasi, bicaralah yang baik2 belajarlah cara2 Rosul-mu “MUHAMAD SAW” dengarkan cara dia bersikap, berbicara, serukan kebaikan dengan penyampaian yang lembut dan ikhlas, sedikitkan bicara kasar dan burukmu, niscaya dunia ini damai dan menjemput surgamu “ciptakan surga sebelum surga sebenarnya”

Ketahuilah Tak Ada Nasib Yang Permanen

Sesuatu yang kita sebut ‘nasib’ itu bukanlah sebuah keadaan yang permanen.
Dia sangat lentur, luwes, dan reaktif.
Dia berespon kepada kualitas sikap dan tindakan tindakan kita – tanpa menyumbangkan pendapatnya sendiri.
Dia – nasib itu, berupaya sangat netral; meskipun sebetulnya dia sangat berpihak kepada keberhasilan dan kebahagiaan kita.
Nasib sudah berdiri di samping peraduanku sejak mataku terpejam tadi malam.
Dia tidak sabar menunggu kebangunanku , agar pagi ini aku mengupayakan pelayanan kepada orang lain – kebaikan bagi orang lain yang penting bagi kebaikan sang nasib.
Tetapi, lebih sering daripada tidak, nasib itu dikecewakan oleh orang yang terjaga- tetapi tidak bangun.
Bagi mereka yang bangun – yang tegap dan bertenaga – dalam pekerjaannya; nasib akan mengambil bentuk sebuah istana yang megah dan gemerlap.
Tetapi, bagi mereka yang tidak bangun, walau pun terjaga; nasib akan mengambil bentuk sebuah penjara.

Reflection, thoughts of the heart : Ketika sebuah telaga yang bening dgn aliran yg jernih terteteskan tinta hitam, dia akan melarutkan tinta itu ke semua sisi telaga dan dipastikan nanti bening kembali Tapi: “sebesar apakah telaga bening itu dan seberapa banyakkah tinta yang menodainya ? Hm… itulah yang menentukan seberapa cepatnya hati ini bening kembali dan pikiran jernih kembali”

#CaraSuksesDunia

Mantra mendatangkan “REJEKI”

Banyak orang seringkali mengeluh bahwa setelah bekerja dan berusaha dengan sangat keras, tetapi tetap saja rasanya rejeki yang rasanya layak dan diinginkan masih terasa jauh.

Ada sebuah pertanyaan penting yang cukup menggelitik. ..

Apakah seharusnya kita punya pikiran dan perasaan sukses dahulu baru kemudian segala kesuksesan yang kita inginkan itu datang, atau sebaliknya?

Tentu saja dengan berpikir dan merasakan perasaan kaya dan sukses dulu
itulah yang kemudian mengundang kekayaan dan rejeki. Kenapa begitu?
Dengan kita bisa membayangkan, memikirkan, merasakan atas tujuan kita,
kesuksesan itu sendiri, secara detail dan jelas, maka kita sudah punya sebuah modal. Ya, modal dasar, yaitu arah dan tujuan yang jelas. Coba kita bayangkan, kalau kita melakukan sesuatu, atau pergi ke suatu tempat yang kita sama sekali tidak punya tujuan pasti, tentu saja kita tidak akan pernah sampai ditujuan kah? Wong tujuannya saja kita tidak punya.

Apa yang terjadi bila bila seseorang memiliki pola pikir dan pola perasaan sukses?

Orang yang memiliki pola pikiran dan pola perasaan sukses menjadi orang yang mampu selalu melihat peluang, serta mau untuk segera mengambil peluang tersebut, serta mampu dan berani untuk belajar dari kesalahan dan kegagalan yang dibuatnya secara positif. Hasilnya? Tentu saja mudah dapat rejeki, karena dirinya sudah menjadi MAGNET untuk rejeki tersebut.

Bagaimanakah cara memiliki MAGNET bagi REJEKI, dengan memiliki pola pikir dan pola hati yang mampu menarik kesuksesan?

Banyak orang yang telah belajar dari berbagai training yang bagus, membaca banyak buku yang bagus, tetapi mengapa mereka belum juga merasa menghasilkan perubahan seperti yang diinginkan?

Jawabannya sederhana, semua yang telah diketahui tersebut adalah sebuah informasi di dalam pikiran kita, dimana masih membutuhkan sebuah proses untuk menjadikannya pola yang menyatu di dalam diri mereka.

Untuk mengubah semua informasi di pikiran kita menjadi sebuah pola, sebenarnya bukan hal yang sulit, hanya dibutuhkan sedikit disiplin dan kesadaran.

Maksudnya?

Pikiran kita merupakan sebuah sistem yang sangat kompleks. Sebuah model pikiran yang cukup sederhana yang dapat kita gunakan untuk menyederhanakan proses yang rumit adalah dengan membagi pikiran kita menjadi pikiran sadar dan bawah sadar.

Ketika kita mau “mengundang” REJEKI untuk datang kepada kita, maka secara sadar (pikiran sadar) kita mulai memberi TANDA atau lambang
rejeki itu sendiri. Bagaimana caranya?

Untuk mencapai sebuah tujuan, kita membutuhkan sebuah tujuan dan target yang jelas dan detail. Kita bisa membayangkan dan merasakan, bahwa kita sudah memiliki tujuan kita, target kita, apapun yang kita definisikan sebagai kesuksesan (berupa sesuatu yang konkret, seperti rumah, mobil, sekolah, pasangan, anak, dll), yang semua ini dapat kita lakukan secara berkala.

Berarti kita sudah memiliki sebuah TUJUAN, sebuah target untuk dikejar, REJEKI yang akan datang pada kita. Lalu? Setelah itu, maka kita perlu mengaktifkan program MAGNET kita terus menerus. Seperti apa?

Perhatikan kata-kata kita.. apa yang kita katakan dalam pikiran kita
itulah yang kemudian menentukan nasib kita..

hati-hati dengan pikiran kita, itu menjadi perkataan,
hati-hati dengan perkataan kita, itu menjadi perbuatan,
hati-hati dengan perbuatan kita, itu menjadi kebiasaan,
hati-hati dengan kebiasaan kita, itu menjadi karakter,
hati-hati dengan karakter kita, itu menjadi nasib…

Dalam sehari-hari, banyak hal-hal yang bagi kita positif maupun negatif terjadi pada diri kita. Apapun yang terjadi dengan diri kita,
biasakan untuk berkata “ini adalah REJEKI saya”, apapun yang terjadi.

Mengapa begitu? Karena sebenarnya, ketika kita telah memprogram diri kita di bawah sadar, dengan sebuah tujuan, sebuah target, maka saat itu juga kita membutuhkan berbagai “pelajaran” dari kehidupan. Nah,
banyak pelajaran yang kita butuhkan seringkali belum kita miliki.

Bagaimana cara memiliki pelajaran tersebut?

Dengan belajar dari kehidupan. Apapun yang terjadi pada diri kita, pasti ada pelajaran, atau sering kita sebut sebagai HIKMAH. Semuanya tergantung bagaimana kita menyikapi apa yang terjadi pada kita. Bila kita mampu mengambil hikmah dari kejadian yang terjadi pada diri kita, maka kebutuhan atas pelajaran untuk mencapai target atau tujuan kita, terpenuhi.

Jadi, apabila kita mampu berkata “ini adalah REJEKI saya” untuk tiap kejadian (baik kita anggap positif atau negatif), maka pikiran bawah sadar kita mulai memproses pelajaran yang dapat kita serap (tidak akan terasa bagi kita, wong namanya juga bawah sadar).

Jadi, program ini mampu membentuk pola yang ada saat ini didalam hati dan pikiran kita, menjadi mampu mengundang kesuksesan seperti yang kita inginkan. Sekali lagi, dengan terbentuknya pola hati dan pikiran kaya ini, maka seseorang menjadi sebuah MAGNET yang mampu menarik apapun yang diinginkannya.

Selamat menikmati REJEKI setiap hari nya.. Minimal sahabat yg baik dan setia mengajarkanmu… Itu rejeki yg istimewa..

Salam.