Menu

Psikopat Marketing

12/04/2017 - Article Tentang Usaha & Rejeki
Psikopat Marketing

Psikopat Marketing

Berapa harga rata-rata satu porsi makanan cepat saji yang sering kita nikmati hampir setiap harinya, 5 ribu, 10 ribu, 20 ribu, 50 ribu atau 100 ribu? Pergeseran nilaipun bergeser, nominal 5 ribu hingga 10 ribu pun sekarang menjadi nilai yang tidak besar lagi, bahkan di beberapa kalangan angka tersebut sebagai “uang receh.”

Mari kita jalan-jalan ke sebuah restoran pizza untuk sekedar “mengganjal” perut ini. Sudahlah jamak bagi kita kalau kita datang pada sebuah restoran cepat saji akan ditawarkan bermacam-macam paket makanan, mungkin saja namanya Pake Hemat 1, Paket Hemat 2, Paket Combo dan sebagainya. Jika kita memilih paket hemat 1 barangkali kita akan mendapatkan paket standar, paket hemat 2 mungkin makanan seperti yang di paket hemat 1 ditambah jenis lain, dan seterusnya.

Ada yang unik di sebuah restoran pizza, terdapat 2 paket menarik yang mereka tawarkan. Pertama paket A dimana terdapat pizza standar seharga Rp 25.000,00 dan konsumen dapat menambahkan jenis bahan lain dengan harga Rp 5000,00 per jenis bahan tambahannya. Paket lainnya yang dinamakan pake B adalah paket full/lengkap seharga Rp. 50.000,00 dan konsumen juga memiliki hak untuk mengurangi jenis bahan yang tidak diinginkan dan harga pizza akan berkurang Rp 5000,00 untuk setiap jenis bahan yang dikurangi. Timbul pertanyaan atas paket yang unik tersebut, mengapa restoran pizza tersebut menerapkan strategi ini dan paket mana yang paling laku.

Sorang ahli pemasaran Irwin Levin dan beberapa rekannya melakukan penelitian di beberapa negara termasuk negara asal pizza yaitu Italia, menemukan sebuah hasil fenomena yang unik, ternyata Paket B lebih menguntungkan dari Paket A bagi restoran pizza yang dijadikan sampel tersebut. Berdasarkan tulisan Harry Susianto, Pengajar Perilaku Ekonomi Fakultas Psikologi UI mengungkapkan bahwa manusia lebih cenderung mempertahankan yang dikuasainya dari pada melepaskannya, terdapat sensasi “rugi” jika harus melepas banyak hal yang akan didapatkan walaupun dengan kompensasi membayar lebih.

Pada kasus pizza di atas, untuk konsumen yang memilih paket A, mereka lebih cenderung menambahkan jenis bahan yang lebih sedikit yang berarti menambahkan lebih sedikit, bentuk ekualitasnya, konsumen telah memiliki sebuah barang yang dianggap sesuai dengan standar mereka, dan memiliki kesempatan menambahkan hal-hal ekstra yang mereka fikir pada saat itu “tidak diperlukan” maka konsumen akan cenderung menambah sedikit saja atau bahkan tidak menambah sama sekali. Untuk konsumen yang memilih paket B, mereka cenderung mengurangi jenis bahan yang telah ada, secara umum, konsumen pada jenis ini telah menganggap hal tersebut sesuai dengan kebutuhannya atau dengan kata lain sesuai dengan standar mereka, dan mereka akan lebih cenderung mempertahankan standar tersebut dengan cara mengurangi fitur-fitur lebih sedikit atau bahkan tidak mengurangi sama sekali walaupun dengan kompensasi membayar lebih tinggi. Pada prakteknya dalam sistem pemasaran, penghasil barang atau jasa mengemas sebuah paket ultimate atas produk mereka yang memberikan fitur lebih dari standar dan memberikan pilihan konsumen untuk mengurangi fitur yang telah ada pada produk barang atau jasa tersebut dengan kompensasi pengurangan harga produk tersebut. Dengan pizza, teori tersebut sukses berat, mau mencoba untuk bidang produksi barang atau jasa kita sekarang?

“If you can dream it, you can do it.” – Walt Disney

  1. “The best way to predict the future is to create it.”– Alan Kay

    Salam Rahayu