Menu

SPIRITUAL

19/03/2017 - Article Belajar Kebatinan
SPIRITUAL

SPIRITUAL

__________________________

Aku bertanya kepada seorang anak yang sedang berjalan yg sambil membawa lilin,

“Dari mana cahaya itu berasal?”

Tiba-tiba ia meniupnya.

“Katakan kepadaku, ke manakah perginya –maka aku akan mengatakan kepadamu dari mana asalnya.”

Spiritual itu lebih merupakan upaya perjalanan seseorang ” ke dalam”

menemukan jati dirinya yang sesungguhnya. Kejadian dan pengalaman

kehidupan sehari-hari membimbing seseorang untuk lebih mengenal dirinya

sendiri. Seseorang menjadi sabar dan ikhlas melalui pengalaman-pengalaman

kehidupan yang menyakitkan.

Seorang menjadi penuh rasa syukur dan

terimakasih juga setelah mendapat sentuhan-sentuhan Tuhan melalui

kehidupan.

Inikah Spiritual ???

Spiritual itu bukan kemampuan terbang tinggi di langit.

untuk apa belajar terbang tinggi di langit bila sudah ada pesawat terbang?

Spiritual itu bukan kemampuan berjalan di atas air.

untuk apa belajar berjalan di atas air bila sudah ada perahu?

Spiritual itu kembali ke kesederhanaan manusia dan menjadi polos.

Kajian Ilmu yg disebut dalam dan tinggi tidak ada apa-apanya, dibandingkan dengan

kesederhanaan dan kepolosan.

Kesederhanaan tercermin dalam kesabaran,

ketenangan dan menerima apa adanya.

Dengan kesederhanaan akan

mengembalikan diri kita kepada kualitas aslinya, pribadi yang polos.

Polos juga dapat berarti bersih, jernih dan bening.Seperti mata air yang bersih, jernih

dan bening..tidak saja membawa kesejukan dan keteduhan, juga dapat

melepaskan dahaga orang-orang disekitarnya.

Kesederhanaan dalam kesabaran, ketenangan dan menerima apa adanya akan menghantarkan seseorang ke dalam keadaan batin yang bersih, jernih dan bening.

Inikah Spiritual???

Spiritual itu menjadi bodoh, biasa dan merendah

Ketika merasa masih bodoh, kita akan membuka diri untuk selalu belajar dari orang lain, dan memperlakukan orang lain sebagai perpustakaan hidup, entah orang itu berpendidikan tinggi atau tidak, kaya atau miskin.

Ketika merasa diri orang yang biasa, kita akan belajar untuk MENDENGARKAN perkataan orang lain: apa yang dimaksud dari kata yang tersurat, mencari

yang tersirat dari yang tertulis.

Padi yang sudah bertumbuh dan berisi akan merunduk ketika siap dipanen.

Bambu yang berakar kuat ke dalam, setelah tinggi ia pun akan merunduk.

Air laut jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan air sungai karena laut yang sangat luas dan dalam itu berani untuk merendah

Laut lebih luas dari daratan dan letaknya paling rendah.

Menerima segala yang datang dari atas, sungai maupun daratan.

Laut mengajarkan kita untuk rendah hati, meskipun kita memiliki segalanya.

Dengan rendah hati, kita akan menerima hidup apa adanya..dengan keikhlasan, kita menerima tangan-tangan Yang Maha Kuasa bekerja.

Ikhlas bisa berarti berhenti berusaha mengerti. Dan tetap aman, nyaman bahkan ketika tidak tahu.

Itu sebabnya laut merendah, mensyukuri apa saja yang datang.

Hasilnya, laut agung tidak terkira.

Ia yang berguru pada laut sedalam ini, sudah menemukan orang tua spiritualnya.

Sebagai Ibu, laut adalah simbolik cinta karena apa saja yang datang diolah penuh cinta.

Sebagai Ayah, laut adalah wakil keikhlasan sempurna karena menerima apa saja tanpa keserakahan memilih.

“Kita Bertemu yang Maha Tinggi, ketika kita rendah hati”

“DAN SEMAKIN KITA PASRAHKAN SEMUANYA… MAKA AKAN SEMAKIN BANYAK YG AKAN DIPASRAHKAN KEPADA KITA DARINYA”