Menu

Tempat Ibadah

19/03/2017 - Article Tentang Ilmu Hikmah
Tempat Ibadah

Tempat Ibadah

____________________

Pada dasarnya spiritual adalah mengenal diri sendiri (eling).

Tempat ibadah yang sesungguhnya adalah diri kita sendiri, tubuh ini adalah tempat ibadah yang harus senantiasa dibersihkan dari kotoran2 batin baik berupa ucapan, pikiran dan perbuatan.

Karena di dalam tubuh ini sesungguhnya terdapat sesuatu yang suci, yang

cahayanya dapat bersinar menembus segalanya, ke seluruh lapisan langit.

Cahaya inilah yang dapat menghantarkan kita menuju sumber cahaya yang

hakiki. Untuk menemukan cahaya di dalam diri ini diperlukan hati yang bersih,

hati yang benih, hati yang transparan.

Untuk itu diperlukan usaha, usaha yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Usaha itu meliputi segala jenis perbuatan baik, niat2 mulia, keinginan untuk berbagi kepada sesama, perasaan hangat dan saling kasih sayang. Dalam spiritual hal inilah yang sesungguhnya yang lebih dapat menghantarkan kita kepada Hyang Kuasa. Bukan dengan ribuan doa atau laku spiritual lainnya. Memang hal-hal tersebut dapat membantu membersihkan hati, atau setidaknya membantu menghantarkan manusia ke depan Pintu-Pintu Sumber cahaya.

Tapi untuk memasuki pintu-pintu itu, hanya tindakan dan perbuatan yang dapat mencapainya..

Jangan pernah takut untuk melakukan kebaikan. Terkadang, untuk melakukan sesuatu yang baik banyak hal yang harus dikorbankan. Termasuk waktu, uang, tenaga. Jangan pernah takut miskin, kita tidak akan benar-benar miskin dengan memberi sesuatu kepada orang lain. Apa yang kita alami, baik itu penderitaan ataupun kesukaran-kesukaran hidup adalah pembuka jalan bagi jiwa kita ke depan.

Saat melakukan kebaikan, jangan ada rasa menyesal atau mengeluh. Lakukan seikhlas-ikhlasnya. Walaupun uang di dompet habis, ataupun kita tidak akan makan makanan yang bisa dimakan hari itu, sudah jangan mengeluh dan ikhlaskan saja.Disinilah sebenarnnya kunci dari hidup itu sendiri.

Ini semua semata-mata adalah ujian bagi kita, semakin tahan kita menderita di dunia ini semakin cerahlah masa depan kita kelak, baik di dunia ini maupun di alam sana.Namun tentu saja penderitaan yang dialami adalah atas dasar kebaikan dan pengorbanan, dan kita menyadari bahwa penderitaan yang kitaa alami ini semata-mata hanyalah ujian dari Sang Pemilik Kehidupan.

Dan apabila kita lulus dari ujian ini, jiwa kita akan menjadi Mahatma, setara dengan Gandhi, para Wali, Mother Theresa, Dalai Lama dan banyak manusia-manusia suci lainnya yang berjalan di jalan kebaikan dan kemanusiaan.

Bila boleh lari, semua mau lari dari penderitaan. Dan karena tidak bisa lari, parasuci kemudian merenung dalam-dalam, dan menemukan cahaya. Nabi Isa bercahaya ribuan tahun karena disakiti. Mahatma Gandhi menerangi banyak jiwa karena ditembak mati. Jalalludin Rumi rangkaian katanya menggetarkan sukma juga karena mengalami kesedihan kehilangan guru.

Sebagai tambahan bahan renungan, semua – sekali lagi semua – orang suci dimurnikan melalui rasa sakit. Sang Rama (Hindu) istrinya dilarikan orang, Buddha disakiti sepupunya Devadatta serta digoda Mara, Yesus disalib, Nabi Muhammad dikejar2 suku Quraishi.

Sehingga saran saya, lihatlah rasa sakit seperti amplas yg menghaluskan.

Puncak kehalusan inilah yg disebut pencerahan.

Seberapa besar keikhlasan yang anda berikan akan beresonansi dalam kehidupan anda di masa-masa yang akan datang.

Semakin besar anda berbagi, semakin tulus anda memberi, maka kebaikan itu akan menjadi berlipat-lipat kembali pada diri anda sendiri.

Tak ada yang sia-sia kebaikan yang dilakukan dengan tulus…